Sekian lama tidak ikut Ziarah Wali akhir nya tahun ini bisa ikut lagi, disinis saya ikut rombongan ibu jamaah tahlil kampung saya khusus nya dusun mabang.
Membayar kursi dengan harga 150 ribu tentu sangatlah murah, dari dulu ingin ikut Ziarah wali namun tidak memiliki uang cukup dan banyak pengeluaran.
Selain Jawa saya sendiri juga baru tau kalau di madura ada juga makam para wali yang sering di datengin para perziarah dari jawa.
Di Madura tempat yang di kunjungi adalah :
- Makam Mbah Kholil
- Asta Tinggi
- Aer Mata Ibu
- Batu Ampar
- Sunan Cendana
- Bujuksara
- Sunan Ampel
Tentu dari ke lima makam yang ada dimadura ini adalah merupakan tempat yang sering di kunjungi para ziarah dari luar medura.
Berikut ini beberapa tips dan tempat - tempat yang sesui urutan untuk di kunjungi kalau kalian wisata religi ke madura.
1. Bujuksara
Bujuksara ini merupakan tempat Ziarah Wali di Madura yang dikunjungi, karena ini berada di bangkalan serta dekat dengan suramadu serta tidak jauh dari tempat kedua
Bujuk Sara adalah komplek makam tokoh ulama atau penyebar Islam yang dikeramatkan (bujuk / buyut) di Madura, terletak di Desa Martajasah, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, sekitar 200 meter dari makam Syaikhona Kholil.
Isi Komplek Makam Bujuk Sara
Komplek ini terdiri dari tiga makam utama:
- Sayyid Abdullah (di sebelah kanan) — merupakan salah satu guru Thoriqoh dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
- Sayyidah Siti Maisarah (di bagian tengah) — yang sering kali namanya menjadi asal-sebutan dari Bujuk Sara.
- Syeikh Syarifuddin (di sebelah kiri) — yang diyakini merupakan keturunan dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Di halaman makam terdapat sumur keramat peninggalan Sayid Abdullah yang airnya sering digunakan peziarah (dipercayai membawa keberkahan atau membuat awet muda).
Kalian untuk sampai ke makam Bujuksara ini tentu harus jalan kaki sekitar 100 meter untuk sampai makam ini.
2. Makam Mbah Kolil Bangkalan
Selanjutnya yang kedua adalah makam Mbah Kolil Bangkalan yang mana butuh beberapa menit saja dari Bujuksara ini.
Makam Syaikhona Kholil (Mbah Kholil) adalah salah satu destinasi wisata religi paling utama di Pulau Madura. Syaikhona Kholil dikenal sebagai maha guru dari para ulama besar di Nusantara, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari.
Makam Mbah Kolil Bangkalan selalu ramai di datangi oleh pengunjung dan tidak pernah sepi, karena lokasi nya berada di Dalam Masjid jadi banyak para Ziarah ke Masjid dulu untuk solat dan selanjutnya Ziarah ke Makam Mbah Kolil.
Makam ini berada di dalam komplek Masjid Syaikhona Kholil yang megah, tepatnya di Desa Martajasah, Kabupaten Bangkalan. Komplek ini sudah dilengkapi akses ramah disabilitas (wheelchair accessible) dan toilet umum yang memadai.
Seperti yang sempat dibahas sebelumnya, komplek makam ini juga terletak sangat dekat (hanya berjarak sekitar 200 meter) dari Bujuk Sara, sehingga para peziarah umumnya mendatangi kedua tempat suci ini sekaligus dalam satu rangkaian kunjungan.
Apakah Anda membutuhkan rekomendasi kuliner khas Bangkalan terdekat untuk dikunjungi setelah berziarah, atau ingin mengetahui estimasi waktu perjalanan dari lokasi Anda saat ini?
3. Aermata Ibu
Selanjutnya ke Aermata Ibu yang mana masih di Kabupaten Bangkalan yang dikunjungi.
Makam Aer Mata Ibu (sering disebut Aermata Ebu atau Pasarean Ratu Ibu) adalah kompleks pemakaman kuno bangsawan Madura dari Wangsa Cakraningrat. Terletak di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, situs ini berjarak sekitar 11–12 km ke arah utara dari pusat Kota Bangkalan.
Asal-Usul Nama & Legenda Ratu Ibu
Nama “Aer Mata Ibu” merujuk pada kisah pilu Syarifah Ambami (Ratu Ibu), keturunan Sunan Giri yang menjadi permaisuri Raden Praseno (Panembahan Cakraningrat I).
- Pertapaan Ratu Ibu: Karena suaminya sering bertugas di Kerajaan Mataram, Ratu Ibu menghabiskan waktu bertapa di Arosbaya guna mendoakan agar keturunannya kelak dipercaya menjadi penguasa Madura hingga 7 turunan.
- Kemarahan Sang Raja: Saat mendengar cerita tersebut, Cakraningrat I justru kecewa. Beliau berharap kepemimpinan itu bertahan selamanya, bukan dibatasi hanya sampai 7 turunan.
- Tangisan Abadi: Merasa sangat bersalah dan sedih atas kekecewaan suaminya, Ratu Ibu kembali bertapa sambil terus-menerus menangis memohon ampunan, hingga air matanya membanjiri tempat pertapaan tersebut sampai beliau wafat.
Jika kalian disini tentu harus jaga uang kalian karena disini banyak sekali pengemis yang mana apabila kalian kasih akan ikuti kalian terus.
Jadi lebih baik tidak usah beri uang, lebih baik uang kalian kasih aja ke kotak amal yang ada disana dan membeli air yang ada disana dengan harga 5 ribu rupiah sebotol nya.
4. Makam Sunan Cendana
Makam Sunan Cendana (Syekh Zainal Abidin atau Pangeran Purna Jiwa) merupakan salah satu destinasi ziarah Wali legendaris di Madura. Kompleks pemakaman kuno ini terletak di Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan.
Sunan Cendana dikenal sebagai ulama besar penyebar Islam di kawasan Madura Barat serta leluhur dari banyak ulama terkemuka di Madura dan Jawa Timur, termasuk masih memiliki garis keturunan dengan Syaikhona Kholil Bangkalan.
Asal-Usul Nama & Sejarah
- Gelar Sunan Cendana: Nama “Cendana” melekat karena dahulu di sekitar tempat pertapaan dan dakwah beliau di Kwanyar banyak ditumbuhi pohon cendana yang mengeluarkan aroma sangat wangi.
- Garis Keturunan Ningrat: Beliau merupakan cucu dari Sunan Kudus (Jafar Sadiq) dari jalur sang ayah. Sementara ibunya adalah keturunan dari Kerajaan Mataram Islam.
- Pelarian Spiritual: Dikisahkan bahwa beliau pergi ke Madura untuk menghindari pergolakan politik dan kekejaman Sultan Amangkurat I di Jawa. Di Madura, beliau memfokuskan hidupnya untuk menyebarkan syiar Islam hingga wafat dan dimakamkan di Kwanyar.
5. Persarean Batu Ampar
Selanjunya adalah Persarean Batu Ampar yang di kunjungi, karena tempatnya jauh jadi di tempat ini pas magrib, Jika kesini disaran kan untuk naik ojek karena berjalan ke makam nya lumayan jauh.
Pesarean Batu Ampar (Makam Wali Batu Ampar Barat) adalah salah satu kompleks pemakaman religi paling keramat dan legendaris di Pulau Madura. Kompleks makam kuno ini terletak di Dusun Batu Ampar, Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.
Berbeda dengan makam-makam sebelumnya yang berada di Bangkalan (Madura Barat), Batu Ampar terletak di Madura Tengah dan menjadi pusat ziarah spiritual yang menyedot jutaan umat Islam dari berbagai daerah.
Kompleks 6 Makam Wali Allah
Di dalam komplek pesarean ini, terdapat makam para ulama dan buju’ (buyut) penyebar Islam yang terikat dalam satu garis keturunan. Tokoh yang paling masyhur di antaranya:
- (Syekh Abdul Manan) — Ulama perintis dan salah satu tokoh utama dari silsilah Wali Batu Ampar.
- Buju’ Tumpeng (Syekh Muhammad Syamsuddin) — Putra dari Buju’ Abdul Manan, dikenal dengan julukan ini karena keteguhannya dalam bertapa/tirakat demi umat.
- (Syekh Arif) — Cucu dari Buju’ Abdul Manan, diberi julukan Lattong (kotoran sapi) karena karomah beliau yang mampu menyembunyikan identitas spiritualnya agar tidak pamer di hadapan manusia. Para ulama Batu Ampar ini juga merupakan leluhur dari banyak kiai besar di Jawa Timur, termasuk para pendiri pondok pesantren legendaris di Madura.
Asal-Usul Nama & Tradisi Ziarah
- Arti Nama: Nama Batu Ampar berasal dari bahasa Madura yang berarti batu yang menghampar atau membentang, merujuk pada kondisi geografis perbukitan batu di sekitar lokasi pertapaan para pemuka agama tersebut,
- Keunikan Spritual Khataman: Situs religi ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya jutaan umat yang melakukan khataman Al-Qur’an. Kompleks ini juga pernah menjadi tempat ziarah dan iktikaf favorit dari Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

